Monday , December 16 2019
Home / Artikel / Standar Ganda

Standar Ganda

Bagi kebanyakan orang, bulan Juni, Juli, dan Desember merupakan bulan untuk liburan. Label high season melekat di tiga bulan itu. Banyak festival, banyak hari libur,banyak diskon, banyak event yang membuat manusia bergembira. Tapi dilain pihak, dibalik kegembiraan manusia di bulan penuh perayaan itu, banyak sekali anjing dan kucing yang terancam kehidupannya. Banyak pula animal lovers yang setiap hari khawatir hewan peliharaannya dicuri atau diracun untuk dagingnya dikonsumsi.

Bukan rahasia lagi jika di tanah Minahasa banyak orang yang suka mengkonsumsi daging hewan yang tidak termasuk dalam kategori hewan ternak, diantaranya daging anjing dan kucing. Tingginya permintaan terhadap kedua daging ini berdampak pada naiknya tingkat pencurian anjing dan kucing di rumah – rumah penduduk. Tidak jarang orang – orang yang menjadi korban pencurian anjing dan kucing ini marah dan memaki pelaku pencurian. Yang paling ekstrim ketika pelaku pencurian tertangkap basah oleh warga pada saat melakukan aksinya. Reaksi warga selalu kejam dan tidak terkontrol karena melampiaskan kekesalan pada kasus – kasus sebelumnya. Mulai dari mobil pelaku dibakar dan pelaku dikeroyok sampai babak belur,sampai penyiksaan terhadap pelaku dan dibakar hidup – hidup.

Ironisnya, sebagian besar orang – orang yang marah dan main hakim sendiri ini termasuk yang masih mengkonsumsi daging anjing dan kucing. Ada yang hari ini marah – marah anjingnya dicuri, besoknya ke pasar mencari daging anjing untuk dimasak dan dikonsumsi. Dan mereka tahu persis dari mana anjing – anjing itu berasal. Bukan tidak mungkin penggalan daging yang mereka beli adalah anjing mereka sendiri.

Disinilah standar ganda berlaku setiap hari hingga akhirnya menjadi sebuah tradisi. Kekejaman tidak hanya terjadi pada anjing dan kucing yang akan dikonsumsi tetapi juga terjadi pada pelaku pencurian anjing dan kucing yang notabene tugasnya menjamin ketersedian daging terhadap permintaan pasar yang tinggi dan “legalitas” kekejaman terhadap hewan – hewan tersebut asal bukan peliharaan sendiri. Ada juga yang kemudian membantah dan membela diri dengan mengatakan bahwa berarti boleh (dimakan) asalkan punya sendiri.

Akibatnya, yang terjadi kemudian adalah anak – anak kecil di rumah terbiasa melihat pembantaian, penyiksaan dan proses – proses lainnya sampai daging – daging ini siap dikonsumsi. Tidak sedikit yang kemudian belajar memakannya dan akhirnya menjadi suka. Akibatnya, pola di atas akan berulang ketika mereka dewasa dan tidak mengherankan jika beberapa dari mereka menjadi pelaku pencurian dan menyedia pasokan daging –daging ini.

Sayangnya, pelaku – pelaku tradisi ini tidak menyadari efek dari standar ganda yang mereka tanamkan. Kekejaman terhadap hewan dan tindakan main hakim sendiri terhadap pelaku pencurian hewan peliharaan tidak akan berkurang apalagi habis dalam waktu dekat ini. Kesadaran yang tidak pernah ditanamkan sejak dini kepada anak – anak dan praktik standar ganda yang terus berulang ini bukan tidak mungkin malah meng-upgrade perilaku dan tindakan – tindakan kejam terhadap hewan dikemudian hari. Pertanyaannya, siapkah kita merombak tradisi, dan maukah kita mulai melakukannya? (Yoan W)

About admin

Check Also

About Tomohon Market

The Tomohon Market in North Sulawesi, Indonesia is a traditional market known for selling entirely …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »